Sabtu, 11 Februari 2012

STRUKTUR, SIMBOL, DAN MAKNA WAYANG TOPENG MALANG



Robby Hidajat

Abstract: Wayang topeng of Malang is a performing art with its own
special characteristics. Its survival is due to the supporting local community. The relationship between wayang topeng performance and the local
community is not only functional but also characterized by symbiotic mutualism, where symbolic meanings often show up in the perfnrmance. 
This truly gives sociocultural significance to the supporting community,
as often shown by the structure of the performance.
Key words: wayang topeng, performance structure, symbolic meanings.

Pada akhir abad XVIII tercatat adanya Wayang Topeng yang dipertunjukkan di Pendapa Kabupaten Malang, yaitu waktu pemerintahan Bupati Malang; A.A. Surya Adiningrat yang memerintah tahun 1898-1934 (Pigeaud, 1938,Supriyanto & Adi Pramono, 1997, Onghokham, 1972). Sekitar tahun 1930-an Pigeaud mencatat beberapa perkumpulan wayang topeng di Jawa, termasuk wayang topeng di daerah Malang bagian selatan; Senggreng, Jenggala, Wijiamba, dan Turen. Perkumpulan wayang topeng yang satu dengan perkumpulan yang lain masih saling berhubungan. Kontak antara perkumpulan yang satu dengan perkumpulan yang lain dikarenakan kebutuhan pengadaan topeng. Perkumpulan y`ng tidak mempunyai pengukir topeng selalu memesan pada seniman pengukir topeng dari daerah lain. Mengingat waktu itu tidak banyak seniman pengukir topeng. Hanya beberapa seniman yang mempunyai kemampuan mengukir topeng, seperti Yai Nata dari DusunSl elir. Di daerah Malang bagian utara hanya ada pengukir topeng yang bernama Reni. (Supriyanto & Adipramono. 1997:7, Onghokham, 1972). Didaerah Malang bagian selatan dikenal pengukir topeng yang bernama Wiji.

Pada tahun 1950-an muncul pengukir topeng bernama Kangseng dari Dusun Jabung. Sementara Karimoen dari Dusun Kedungmonggo mulai dikenal masyarakat luas sebagai pengukir topeng sejak tahun 1970-an (Murgiyanto,Sal. 1982/1983).Kontak antara perkumpulan wayang topeng yang satu dengan wayang to peng yang lain disebabkan juga oleh kebutuhan pelatihan tari dan dalang.Se perti Samut, salah satu tokoh legendaris pemeran Gunungsari. Lelaki yang memiliki gerak-gerik yang luwes cenderung keputri-putrian banyak membina perkumpulan wayang topeng di daerah Malang bagian timur. Tahun 1940-an Samut getol membina banyak perkumpulan wayang topeng bersama dalang bernama Kek Tirtonoto (Kakek M. Soleh AP) anak dari Rusman.Salah satu tokoh yang populer sebagai penari kasar. Rusman selain dikenal sebagai penari kasar juga sangat terampil memainkan instrument pengendang.Tokoh-tokoh tersebut bersama Kek Rakhim mengembangkan wayang topeng di Malang bagian timur hingga tahun l970-an (Wawancara dengan M. Soleh AP, tanggal 20 Agustus 2002).

Sejumlah desa di wilayah Kabupaten Malang yang memiliki perkumpulan wayang topeng adalah; Dampit, Precet, Wajak, Ngajum, Jatiguwi, Senggreng, Pucangsanga, Jabung, dan Kedungmongo. Pada akhir tahun
1970-an, kecuali di Jabung dan Kedungmonggo, kehidupan wayang topeng di daerah-daerah lain nampak telah sangat menurun karena beberapa sebab sehingga dewasa ini para pemain dari desa-desa yang lain banyak yang kemudian bergabung dengan rombongan wayang topeng dari dua desa yang disebutkan terakhir, yaitu Jabung, Kecamatan Jabung bekas Kawedanan Tumpang dan Dusun Kedungmonggo, Desa Karangpandan, Kecamatan Pakisaji, bekas Kawedanan Kepanjen. (Murgiyanto & Munardi, 1978/1979:7-8).

Sepanjang tahun 1980-an hingga tahun 1990-an perhatian masyarakat dan juga instansi pemerintah dan swasta sangat besar. Hal ini dibuktikan adanya usaha-usaha pemasyarakatan kembali mempertunjukan wayang topeng yang ada di berbagai daerah. Kini perkumpulan yang masih dapat tampil yaitu perkumpulan Wayang Topeng Karya Bakti dari Desa Jabung, diketuai oleh Parjo; perkumpulan Wayang Topeng Sri Marga Utama dari Desa Glagahdowo, dipimpin oleh Rasimoen; perkumpulan Wayang Topeng Asmarabangun dari Desa Kedungmonggo, dan perkumpulan Wayang (BAHASA DAN SENI, Tahun 33, Nomor 2, Agustus 2005) Topeng Candrakirana dari Desa Jambuwer pimpinan Barjo (Madya Utamawawancara , tanggal 12 Juni 2003).

Chattam AR seorang seniman wayang topeng, salah satu murid dari Karimoen dan Kangsen menceritakan perihal salah seorang tokoh wayang topeng bernama Wiji dari Dusun Kopral, Sukowilangun. Wiji merupakan salah satu tokoh yang sejajar dengan Reni dari Polowijen atau Yai Nata dari Slorok. Wiji baru diketahui ketokohannya oleh seniman-seniman tari di Malang sekitar tahun 1985. Waktu itu Wiji sudah berusia sekitar 110 tahun lebih (tahun 1985). Menurut catatan Chattam AR, ketika Wiji Masih muda seringkali pentas di pendapa Kabupaten Malang. Waktu itu yang menjadi Bupati di Malang adalah Raden Djapan, sekitar akhir abad XIX (Chattam AR wawancara, tanggal 23 Juli 2003).

Pada akhir tahun 2000 perkumpulan wayang topeng yang masih aktif pentas berasal dari dua desa yaitu (1) Perkumpulan Wayang Topeng Asmarabangun dari Dusun Kedungmonggo, Kecamatan Pakisaji, (2) Perkumpulan Wayang Topeng Sri Marga Utama dari Dusun Gelagahdowo, Kecamatan Tumpang.

PENYAJIAN WAYANG TOPENG
Penyajian pertunjukan wayang topeng di Malang pada umumnya mempertunjukan lakon-lakon Panji atau sebutan Siklus Panji atau Roman Panji, yaitu: Malat, Wasing, Wangbang-Wideha dan Kisah Angraeni. (Zoetmulder [1974] terjemahan Dick Hartoko, 1983:532-539). Penyajian  pertunjukan wayang  topeng dengan tata urutan sebagai berikut: (1) Gending Giro (terlebih dahulu menabuh gending eleng-eleng, Krangean, Loro-loro, gending Gondel dan diakhiri dengan gending Sapujagad), (2) Pembukaan dengan tari Beskalan Lanang (topeng Bangtih), (3) Jejer Jawa (Kediri), (4) Perang Gagal (selingan tari Bapang), (4) Adegan Gunungsari-Patrajaya, (5) Adegan Jejer Sabrang (Klana Sewandana), (6) Adegan Perang Brubuh dan Bubaran (Supriyanto & Adipramono, 1997:4).

MAKNA STRUKTUR WAYANG TOPENG
Kajian struktur pada wayang topeng Malang ini menggunakan Pendekatan strukturalisme model Levi-Strauss dimaksudkan seperti yang dikemukakan oleh Mariasusai Dhavamony sebagai berikut (Hidajat, Struktur, Simbol, dan Makna Wayang)Struktur adalah perhubungan yang kurang lebih tetap dan mendasar 
antara unsur-unsur, bagian-bagian atau pola dalam suatu keseluruhan yang terorganisasi dan menyatu. Struktur adalah keterkaitan satu sama lain yang tak teralami secara langsung, bahkan tak terpikirkan secara logis maupun secara kausal, tetapi dapat dipahami; suatu keseluruhan organis yang tak dapat dianalisis ke dalam unsur-unsurnya, tetapi dapat dipahami dari unsur-unsur pembentuknya. Struktur adalah kenyataan yang disusun menurut maknanya, tetapi makna itu sekaligus merupakan bagian dari realitas maupun subjek yang mencoba memahaminya (1995:30).

Wayang Topeng Malang di Dusun Kedungmonggo, Kecamatan Pakisaji, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Dikaji secara struktural yang pada hakekatnya seperti kajian simbolis, Cassirer [1944] yang memahami bahwa manusia adalah mahluk yang hidup menggunakan simbol (animal symbolicum) (1987:36-40). Kenyataan tersebut melungkinkan terbukanya jalan baru dalam memahami manusia dalam sistem sosialnya atau pemahaman manusia ke arah peradabannya. (Ahimsa-Putra, 2001:40). Wayang topeng di Dusun Kedungmonggo merupakan salah satu fenomena sosial yang memiliki kaitan dengan struktur sosial masyarakatnya, hal ini dipahami sebagai realitas yang tersusun dari satuan-satuan unit kehidupan yang besifat kompleks serta memiliki kaitan relasi fungsional. Pemahaman pemangku wayang topeng merupakan cermin dari interaksi relasi fungsional yang bersifat transformatif, yaitu makna-makna kehidupan 
yang mengatur pemahaman realitas saling kait-mengkait. Mariasusai Dhavamony (1995:30) mengartikan sebagai sifat atau kegiatan yang menjadi bagian dari, atau tergantung pada pengaruh atau tindakan dari suatu keseluruhan dalam kehidupan.

Wayang Topeng di Dusun Kedungmonggo membuka kenyataan adanya pemahaman relasi-fungsional antara pertunjukan (wayang topeng) dengan rumah Jawa . Rumah secara konstruktif dipahami adanya tiga bagian: umpak (bawah), cagak (tengah), dan atap (atas) (Mohammad Dahlan, wawancara 4 Maret 2003). Konstruksi tersebut memiliki relasi-fungsional dengan kosmologis tenggang alam yang berupa tiga yang disebut keraton telu tiga Kerajaan yang oleh penduduk setempat disebut dengan triloka, yaitu (1) dunia atas, (2) dunia tengah, dan (3) dunia bawah. Konsep ini merupakan sebuah transformasi nilai dari arsitektur Hindu yang mengenal tiga tataran274 BAHASA DAN SENI, Tahun 33, Nomor 2, Agustus 2005 konstruktuf 1) Bhurloka (alam manusia) pada bagian bawah, 2) Bhurvurloka (alam suci) bagian tengah, dan 3) Suarloka (alam dewa) pada bagian atas. Lebih lanjut dipahami sebagai Konsep hidup yang mampu menyadari tentang keindahan (indah) dan ketentraman (hening) alam suasana terdiri dari tiga kekuatan (a) sing nguripake, artinya membuat hidup. Dunia beserta isinya tergantung yang mencipta hidup. Dia yang akan membuat garis, batas,  dan takdir; (b) sing urip, artinya hidup itu berada dalam diri manusia. Maka, manusia menyebut Tuhan sebagai  Sang Pamarta, artinya yang hidup; (c) sing nguripi, yang menyebabkan manusia hidup. (Endraswara, 2003:79).

Replika alam yang dikemukakan berupa tiga unsur tersebut terimplementasikan pada acara bersih desa, menempatkan posisional secara simbolis dari 1) Kamituwo [watak lemah tanah ] melambangkan alam bawah (roh/inmatrial), 2) Pundhen, dan Belik tempat mandi di tepi sungai (watak air) melambangkan alam tengah (manusia/jasat/matrial/imanensi), dan gunung (watak angkasa) melambangkan alam atas (alam kadewatan/transcendental). Tiga unsur tersebut menunjukan keyakinan kuno tentang religi gunung.

Skema 1.
Simbolisasi kedudukan Kamituwo, tanah, dan angkasa. Pundhen desa belik kurung [sebagai pusat], sungai, dan gunung. Gunung diyakini sebagai tempat para dewa, tempat arwah yang suci, dan juga sebuah transmisi spiritual yang mewujudkan citra dunia (Imago mundi). Jalinan pembentuk transmisi antara angkasa (transendental) tanah atau bumi, melalui gunung dan sungai tanah sehingga dikenal tentang konsep dualistis. Pada wayang topeng direfleksikan sebagai  lanang-wadon laki-laki-perempuan , bapa angkasa dan ibu bumi atau tanah (Kusmayati, 2003:239, Karimoen, wawancara, tanggal 11 Maret 2003).

Perwujudan maskulinitas dan femininitas dalam pertunjukan wayang topeng tampak pada tari pembukaan yang disebut Beskalan Patih (bangtih). Pada wujud topeng dikenali topeng berwarna merah dan putih. Simbol warna merah dan putih memiliki relasi tentang keselamatan, yaitu ritual mbuwang sangkal atau tolak balak dengan sarana bubur sengkala bubur merah putih . Pada wayang topeng terwujud sebagai tokoh Gunungsari; kata gunung artinya sifat  lanang, sedangkan sari artinya pati (Zat lembut yang dihasilkan dari gandum, padi, atau umbi-umbian) atau inti dari sifatnya wadon (wanita). Pada wujud terpisah ditemukan pada tokoh Panji Asmarabangun dan Dewi Sekartaji, keduanya akan saling mencari dan pertemuannya disebut panggih. Pepanggihan antara laki-laki dan perempuan disebut garwa (sigarane nyawa). Sifat setangkepan sebagai lambang sih langgeng cinta sejati yang disebut sebagai konsep monisme dualistis (Soetarno dalam Kusmayati, 2003:242). Konsep ini dianggap memiliki esensi keyakinan kuno. Orang Jawa mengartikan pada dua kenyataan, yaitu Jaba luar dan sekaligus jero dalam . Dzat adikodrati dianalogikan secara linier dengan dalang purbawasesa (jaba/wadag) yang dianggap sebagai penjelmaan dari dewa Wisnu 
(jero/tan wadag). Pengertiannya adalah menempatkan Dalang dan Wisnu sebagai kesatuan wadah dan isi atau antara jaba dan Jero  topeng dan pemakainya. Esensi roh ilafi roh perantara bersemayam di balik topeng, penonton dan penarinya tidak mengetahui, kalau di dalam (jero) adalah roh yang mengejawantah. Topeng adalah kedok penutup muka penari. Topeng ini juga dapat dimaknai sebagai tabir, yaitu menutup esensi jero. Esensi Jaba dan  Jero adalah Panji Asmarabangun itu sendiri. Panji Asmarabangun hadir tidak mewakili dirinya secara pribadi, tetapi dirinya adalah sebagai transmisi yang menghubungkan antara dunia atas dan dunia bawah. Bisa jadi fenomena tersebut yang dipahami oleh Sunan Kalijaga mengembangkan topeng . (Murgiyanto, 1982/1983). Karena topeng telah menjadi simbol tentang tabir , orang harus berusaha dan mampu menyingkap takbir , dan mengetahui arti yang sesungguhnya realita .

Ruang luar bersifat mengku menyangga eksistensi rumah. Eksistensi rumah dapat disebut rumah jika berada pada ruang luar, sehinga rumah dipahami sebagai jero dalam . Pada kenyatannya jaba dan jero itu tidak menempati posisi ruang definitif, tetapi lebih mengarah pada ruang eksistensial. 276 BAHASA DAN SENI, Tahun 33, Nomor 2, Agustus 2005 Seperti fenomena memahami tentang keberadaan roh . Pemahaman filosofis Jawa tentang monisme dualistis adalah eksistensi pemikiran Manunggaling Kawula Gusti (Soetarno, 2002).

Pada adegan Gunungsari yang disertai oleh Patrajaya adalah sebagai simbol. Patrajaya simbol alam sadar dan Gunungsari simbol alam bawah sadar . Gunungsari mempunyai sejumlah solah ragam gerak tari . Solah
Gunungsari lebih banyak mempresentasikan bentuk satwa, seperti merak kesimpir, merak ngombe, merak keseretan, merak ngigel, wader pari nyungsung beji, dan lain sebagainya. Semua itu menunjukan spirit alam yang bermakna kehidupan . Ini berelasi dengan kali sungai . Air dianggap pembawa berkah oleh masyarakat Dusun Kedungmonggo.

Relasi pada pertunjukan wayang topeng tampak pada (1) Ritual bersih desa, (2) Struktur rumah Jawa, (3) hirarkis kehidupan, dan (4) watak manusia. Perhatikan tabel di bawah ini yang menunjukan adanya relasi antara realitas dan simbolis sebagai berikut.

1. Atap (bagian tertinggi) Latar (halaman) Kamituwo simbol lanang , Ki dalang sebagai simbol Sing Gawe Urip Transcendental Maskulin Kekuasaan isi Panji Asmarabangun
2 Cagak (bagian penyangga atap) Omah (rumah) pundhen desa simbol wadon, wayang simbol urip Manut (nurut) Ngabekti (berbakti) Femenin Wadah (tempat) Sekartaji
3 Umpak (bagian bawah/landasan) Tegalan (Kebun) Gunung simbol roh gamelan yang bersifat mengku menyangga simbol sing ngurupi. Rasa Mewadahi

Klana Sewandana
Fenomena dalam penokohan wayang topeng Malang dapat disimak keberadaan kesepasangan yang disebut kesetangkupan atau dikenal dengan istilah kupu tarung . Kesetangkungan kesejodohan adalah Panji Asmarabangun-Candrakirana simboliknya rembulan dan matahari. Kesetangkungan persahabatan adalah Gunungsari Patrajaya simbulnya Gusti-Kawula (atas-Hidajat, Struktur, Simbol, dan Makna Wayang bawah/langit-bumi). Kesetangkungan perlawanan adalah Klana Sewandana Panji Asmarabangun simbolnya geni (api) banyu (air).

Masyarakat Dusun Kedungmonggo juga mengenali unsur empat sebagai fenomena kelahiran bayi yang bersama dengan benda fisik bareng sedina  keluar bersama dalam sehari , yaitu (1) air ketuba, (2) tembuni, (3) getih darah , (4) puser tali pusat (Karimoen, wawancara tanggal 17 Juli 2003). Pada wayang topeng dapat disimak pada skema asale dumadi asal kejadian manusia (Al-Gasali, 1996. diterj. Kamran As ad Irsyady, 2002:14).

Fenomena sosial yang berkaitan dengan perwujudan rumah sebagai berikut; Kedudukan Rumah berada dalam (I) ruang luar (a) latar halaman , dan (b) tegalan ladang . Ruang dalam yaitu (II) Rumah yang terdiri dari (a) Balai (ruang tamu), (b) Senthong (kamar tidur), (c) Gandhog (rumah keluarga), dan (d) Pawon (dapur). Konstelasi ruang tersebut berrelasi dengan arah mata angin yaitu keblat papat arah kiblat yaitu yang dikenal sebagai pemahaman kosmos bagi orang Jawa. Konsep kosmos ini yang merupakan pola pikir masyarakat Dusun Kedungmonggo dalam memahami makna pusat atau pancer.

Fenomena empat membimbing pemahaman tentang posisi, yaitu batas orientasi: ruang yang disebut dengan kiblat atau dengan dikenal juga dengan istilah Panca kusika. Menurut pemahaman orang Sunda disebut nu opat kalmia pancer (Suryana, 2002:115). Konsep arah kiblat yang menempatkan sebuah persilangan oposisional. Secara koreografi konsdp ini selain tampak pada formasi juga tampak pada gerakan pesut tumpang tali. Gerakan tangan kanan yang diputar ke arah dalam melalui samping telinga memotong ruang di depan dada secara vertikal, kedua telapak tangan bertemu tegak lurus di depan dada. Gerakan telapak tangan dilanjutkan mempertemukan posisi telapak tangan kanan (+) di bawah dan tangan kiri (-) di atas, lalu menggerakan telapak tangan ke samping kiri badan, mempertemukan tangan kiri di bawah (-) dan tangan kanan (-) di atas. Berikutnya gerakan tangan diarahkan ke samping kanan badan dan mempertemukan telapak tangan kanan (+) di bawah dan tangan kiri (-) di atas (Hidajat, 2004:296-297). BAHASA DAN SENI, Tahun 33, Nomor 2, Agustus 2005

Gerakan  pesut tumpang tali menunjukan sebuah persilangan di depan dada, yang dapat dipahami sebagai adanya sebuah pusat daya hidup yaitu di puser. Gerakan tersebut secara simbolis dapat dimaknai rebagai pertemuan antara unsur maskulin (+) dan feminine (-), atau yang transcendental (+) dan profan (-). Pemaknaannya mengarah pada spirit tentang kesuburan, sebuah mitos yang umum dalam masyarakat agraris. Seorang anak gadis yang berusia belasan tahun sudah dijodohkan dengan laki-laki dewasa. Laki-laki yang dijodohkan tinggal di rumah orang tua gadis untuk membantu pekerjaan mertuanya di ladang (Koentjaraningrat, [cetakan 3]: 1994:121).

Fenomena empat juga menentukan sangat (saat); waktu baik dan buruk. Tata cara pengenalan keberuntungan dihitung berdasarkan penentuan jumlah hari dalam satu minggu saptawara , dan jumlah hari pasaran pancawara . Gabungan jumlah salah satu hari dalam satu minggu dan salah satu hari dalam  sepasar untuk menentukan neptu hari. Jumlah yang diperoleh kemudian dibagi dengan lima kriteria keberuntungan. Hitungan dalam menentukan keberuntungan tentang hari baik dan buruk serta nasib seseorang selalu digunakan oleh masyarakat Dusun Kedungmonggo. Waktu mulai mendirikan rumah, menentukan menanam dan menuai hasil bumi, hajatan, bepergian, pergi mencari nafkah, atau mencari barang yang hilang.

Pemahaman tentang ruang dan waktu, menjadi faktor yang mutlak bagi orang Jawa. Demikian pula yang dipahami oleh pendukung wayang topeng di Dusun Kedungmonggo. Wayang topeng tidak hanya berunsur ruang, yang bersifat visual, tetapi serta merta faktor waktu diperhitungkan untuk menempatkan maknanya. Formasi empat pada gerak tari ada yang disebut labas jalan atau ngendali gerak melingkar , dan mecapat segi empat seolaholeh seperti konsep penempatan saka guru pada arsitektur pendapa. Formasi empat juga terdapat pada adegan grebeg barisan prajurit memberikan pemahaman terhadap makna pusat (Chattam AR, wawancara, tanggal 21 Agustus 2003, Zoetmulder, 1974:534).

Persilangan (prapatan) menandakan silang empat sebuah fenomena yang akrab dengan tradisi dusun-dusun kuno. Jajaran rumah-rumah penduduk dibangun berhadapan, pada bagian tertentu dipertemukan dengan persilangan jalan. Persilangan menandakan pancer, tempat roh bersemayam. Ini yang dimaksudkan sebagai roh-roh yang tidak kerawatan terawat , yang setiap saat kesamar, kesandung. Roh-roh tersebut akan menggoda atau mengganggu manusia. Membuang sasaji di perempatan dimaksudkan untuk menenangkan roh-roh agar tetap bersemayam pada pusatnya.Hidajat, Struktur, Simbol, dan Makna Wayang.

PENUTUP
Penyajian wayang topeng pada tataran fungsi sosial, yaitu ketika wayang topeng ditanggap untuk memeriahkan sebuah hajatan. Tampak bahwa kehadiran pertunjukan merupakan realitas yang bersifat kekerabatan dan kesetiakawanan. Realitas tersebut tampak pada kehadiran (1) sing duwe gawe tuan rumah (2) sinoman penyumbang tenaga , (3) tontonan pertunjukan , dan (4) wong nontok penonton . Fenomena empat tampak dalam pertunjukan wayang topeng untuk mengukuhkan eksistensi tuan rumah (pemilik hajat), yaitu menempatkan lungguh posisi . Hal ini dapat disimak pada hajat pelunasan nadir  bayar janji , atau sebagai penghormatan pada roh di pundhen desa.Wayang topeng di Dusun Kedungmonggo memiliki kaitan historis dengan keyakinan adanya roh . Masyarakat di dusun tersebut mengenal roh pelindung desa yang disebut dhanyang desa. Tempat dhanyang Dusun Kedungmonggo terletak di sebuah belik kurung di pinggir sungai Metro. Belik kurung adalah tempat yang dianggap sebagai petilasan bekas kediaman atau makam Kek. Rasek, seorang dari Bangkalan Madura. Kek. Rasek tidak terkait dengan wayang topeng secara langsunf, tetapi terkait dengan tradisi bersih desa yang diadakan setahun sekali di bulan Sura, yang jatuh pada hari Senin Legi dan telah dianggap sebagai tenger tanda adanya keterkaitan kek Rasek (simbol nenek moyang), pundhen simbol pancer, dan Kamitowo BAHASA DAN SENI, Tahun 33, Nomor 2, Agustus 2005

Simbol warga desa yang mempunyai kewajiban melakukan ngabekti. Pertemuan Kamituwo sebagai simbol laki-laki bertemu dengan belik tempat mandi di sungai sebagai simbol wanita oleh karenanya pada acara bersih desa selalu digelar tayub yang menghadirikan tandak penari wanita . Persatuan mereka merupakan sebuah simbol kesuburan , yaitu awal turunnya  wiji atau benih. Wiji akan membuat kehidupan baru, pergantian zaman, pergantian nasif, dan pergantian segala hal yang dianggap telah menimbulkan sukerta .

Pemahaman struktural ruang pada wayang topeng mengarah pada posisi empat arah ke luar, kemudian kembali ke satu titik yaitu arah ke dalam yaitu pancer. Di samping itu, ada ruang eksternal, yaitu latar halaman . Halaman ini mempunyai makna ganda, yaitu pada waktu tertentu sebagai ruang publik pada saat tertentu sebagai ruang sakral , yang ditandai dengan didirikannya tarub (Sunari, wawancara 24 Agustus 2003). Ini merupak`n simbul penghormatan kepada publik dan sekaligus roh, ketika seseorang mengadakan
hajat (pesta selamatan). Tarub menandakan balai sakral yang menghantarkan para tamu melewati satu pintu (lawang tengah). Fenomena ini tampak pada ke luar atau masuk anak wayang topeng dari satu pintu dengan melewati tabir yang disebut slambu kupu tarung. Simbul kelahiran , dan sekaligus kematian .

DAFTAR RUJUKAN
Pramono, M. S. A. & Supriyanto, H. 1997. Dramatari Wayang Topeng Malang. Padepokan Sani Mangun Darmo.
Ahimsa-Putra, H. S. 2001. Strukturalisme Levi Strauss. Yogyakarta: Galang
Press.
Al-Gazali. 1996. Samudra Pemikiran Al-Gazali. terjemahan Kamran As ad
Irsyady. Yogyakarta: Pustaka Sufi.
Cassire, E. 1987. Manusia dan Kebudayaan. terjemahan Alois A Nogorho.
Jakarta: Gramedia.
Dhavamory, M. 1995. Fenomenologi Agama. Yogyakarta: Ka-nisius.
Endraswara. 2003. Mistik Kejawen, Strukturalisme, Simbolisme dan Sufisme 
dalam Budaya Spiritual Jawa. Yogyakarta: Narasi.

0 komentar:

Poskan Komentar